
KOREM 032 WBR, PADANG | Kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi tahun 2026 menjadi perhatian serius jajaran TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh unsur terkait di Sumatera Barat. Komitmen tersebut ditegaskan melalui Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana yang dipimpin Komandan Korem 032/Wirabraja Brigjen TNI Aji Mimbarno di Lapangan Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, Padang, Jumat (6/11/2026) sore.
Apel ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk kesungguhan bersama untuk memastikan setiap unsur memiliki kesiapan personel, material, peralatan, serta pola koordinasi yang jelas ketika bencana terjadi. Kesiapan sejak dini menjadi bagian penting dalam melindungi keselamatan masyarakat, mengurangi risiko korban, dan mempercepat penanganan keadaan darurat.
Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Padang H. Fadly Amran, Dandim 0312/Padang Letkol Inf Faiq Fahmi, para Dandim dan Danyon jajaran Korem 032/Wirabraja se-Sumatera Barat, Kapolresta Padang, unsur Kejaksaan Negeri Padang, Dandenpom I/4 C Padang, Danlanud Sutan Sjahrir, Danpom Padang, Kasrem 032/Wirabraja beserta para Kasi Kasrem, Forkopimda Kota Padang, serta unsur organisasi perangkat daerah dan peserta apel lainnya.
Dalam amanatnya, Brigjen TNI Aji Mimbarno menegaskan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keseriusan, kesiapan, dan keterpaduan seluruh unsur. Setiap personel harus memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing, menjaga kebugaran fisik serta kesehatan, sekaligus menguasai kemampuan yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
Salah satu pesan paling mendasar dalam amanat tersebut adalah bahwa tugas kemanusiaan bukanlah tugas tambahan. Penanganan bencana merupakan panggilan pengabdian yang menuntut kehadiran nyata, kepedulian, dan kesungguhan setiap aparat ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Karena itu, penanggulangan bencana tidak boleh dipandang sebagai pekerjaan sampingan, melainkan bagian penting dari tanggung jawab pengabdian kepada bangsa dan negara.
Danrem juga menekankan bahwa kecepatan bergerak, ketepatan bertindak, dan ketepatan mengambil keputusan sangat menentukan keberhasilan penanganan bencana. Dalam situasi darurat, keterlambatan dan kurangnya koordinasi dapat memperbesar dampak yang harus ditanggung masyarakat. Sebaliknya, kesiapan dan respons yang tepat dapat membantu menyelamatkan jiwa serta meringankan beban warga terdampak.
Lebih lanjut, amanat tersebut mengingatkan seluruh personel agar mengutamakan kesiapan kemampuan fisik, penguasaan peralatan, serta pemahaman terhadap tugas dan prosedur penanggulangan bencana. Kesiapan personel dan material harus dipastikan sejak awal sehingga ketika keadaan darurat terjadi, setiap unsur dapat segera bergerak tanpa harus kehilangan waktu untuk mempersiapkan kebutuhan dasar.
Penekanan berikutnya adalah memperkuat koordinasi dan sinergitas. Penanggulangan bencana tidak mungkin dilaksanakan secara optimal oleh satu institusi saja. Diperlukan kerja sama yang solid antara TNI, Polri, pemerintah daerah, instansi teknis, organisasi kemanusiaan, relawan, dan seluruh elemen masyarakat. Kerja sama tersebut harus dibangun secara terpadu, efektif, dan efisien agar setiap tindakan di lapangan berjalan terarah.
Keselamatan personel dan masyarakat juga menjadi perhatian penting. Setiap pelaksanaan tugas harus mempertimbangkan kondisi lapangan, potensi bahaya, serta langkah pengamanan yang diperlukan. Profesionalisme tidak hanya diukur dari kemampuan bergerak cepat, tetapi juga dari kecermatan bertindak, kepatuhan terhadap prosedur, dan kemampuan menjaga keselamatan seluruh pihak yang terlibat.
Dalam amanatnya, Danrem turut mengingatkan bahwa keberhasilan penanggulangan bencana tidak semata-mata diukur dari banyaknya personel maupun besarnya materiil yang dikerahkan. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah manfaat yang dirasakan masyarakat. Kehadiran aparat harus mampu memberikan rasa aman, menghadirkan harapan, serta membantu meringankan penderitaan warga yang sedang menghadapi kesulitan.
Pesan tersebut mempertegas bahwa pengabdian aparat harus dirasakan langsung oleh rakyat. Ketika masyarakat menghadapi ancaman banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, maupun dampak bencana hidrometeorologi lainnya, kehadiran personel yang sigap, terkoordinasi, dan humanis menjadi kekuatan penting dalam proses perlindungan serta pemulihan kehidupan masyarakat.
Apel kesiapsiagaan ini sekaligus menjadi momentum untuk menyatukan komitmen seluruh unsur agar tidak bekerja sendiri-sendiri. Melalui kesiapan yang terukur, koordinasi yang kuat, kemampuan personel yang terus ditingkatkan, serta kepedulian terhadap keselamatan masyarakat, jajaran Korem 032/Wirabraja bersama seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu memberikan respons yang cepat dan tepat ketika bencana terjadi.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan hanya tentang menyiapkan pasukan, kendaraan, dan perlengkapan, tetapi juga tentang membangun tanggung jawab moral untuk selalu hadir bagi masyarakat. Semangat pengabdian tersebut menjadi landasan dalam menghadapi setiap potensi bencana, sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
TNI AD HADIR UNTUK RAKYAT, MENGABDI UNTUK NEGERI.
KATIM RMO GROUP | WYNDOEE
0 Komentar